New Year 2012 Special Price


Poster & brosur promosi akhir tahun 2011\ Rekanan: Fulltime convenience store
Tidak ada yang istimewa. Seperti biasa, marketer hanya memahami dan melakkukan apa saja yang pernah terjadi dan minim inisiatif untuk menciptakan monumen sejarah baru. Pekerjaan yang sudah menjadi ritual, membuat diskon, potongan harga, bahkan obral. Karena kaum ini belum melihat sesuatu yang lebih hebat dari pada jejak-jejak yang pernah dilakukan para pendahulunya. Maka mantra-mantra seperti special price dan sejenisnya masih dianggap digdaya. Tetapi saya melihat potensi ingin segera keluar dari pola komunikasi kuno di dalam merek ini. Semoga panjang umur, dan mencerdaskan bukan mengenyangkan tok.

Katalog Proyek Interiror BRI


Katalog foto dokumentasi proyek pengadaan interior\ Rekanan: Bank Rakyat Indonesia & PT. Global Karya Sejahtera
Dengan segala hormat, sebenarnya saya sangsi dengan kemanfaatan institusi bank untuk mensejahterakan orang-orang kecil seperti saya saat ini. Yang saya rasakan sementara ini manfaat bank hanya menjadi tempat praktis menyimpan dan menarik uang minim resiko. Malapetakanya ada di bunga yang terlampau kuat memasung akselerasi pertumbuhan perekonomian nasabah-nasabahnya yang memanfaatkan fasilitas kredit. Ditambah lagi jaminan yang terlalu mengada-ada untuk mendapatkan pinjaman dengan nilai nominal yang efektif untuk sebagian calon nasabah. Benar saja Muhammad Yunus sampai harus mendirikan bank untuk rakyat miskin. Saya tidak menuduh klien saya sebagai salah satu dari mereka. Bisa jadi mereka bukan golongan dari bank-bank penghisap, saya tidak paham. Apa yang saya pahami soal kekejaman kebijakan pebankkan bagi orang-orang lemah yang membutuhkan sangat mungkin karena keterbatasan akal pikir saya saja. Dalam konteks pekerjaan dengan mereka kali ini, saya diuntungkan. Demi kelancaran sirkulasi keuangan domestik saya terima proyek ini.

Ekspresi Zonder Pretensi

Kali ini saya dan teman saya, Erwan Sudiwijaya - saya tulis naskah wawancara sementara Erwan yang ngobrol - mewawancarai Irwan Ahmett. Seorang desainer grafis, perupa, komunikator atau apapun sebutannya yang tumbuh di kota kecil wilayah Jawa Barat. Bersama sang istri, dia mendirikan studio desain yang diberi nama AhmettSalina. Seakan tidak mau terbelenggu dalam sekat keilmuan, mereka selalu malakukan eksplorasi, menemukan cara dan medium baru untuk mengkomunikasikan pesan secara tajam. Iwang, panggilan Irwan Ahmett, menceritakan masa kecilnya sebagai anak yang periang dan nakal seperti yang ditulis dalam website pribadinya. Kebiasaan masa lalu membekas, mempengaruhi setiap karya yang dia ciptakan. Percakapan kami bertiga pernah dimuat di majalah Bajigur!, saya lupa edisinya tapi bisa didownload di sini bajigur.org

Apa impian terbesar mas Irwan?
Berkreasi dan melakukan banyak eksplorasi kreatif tanpa banyak tekanan.

Saya pengin denger jawaban paling jujur dari mas Irwan, apakah menyesal menjadi seorang desainer? Kalau saya memang sedikit kepaksa. Soalnya saya kepengennya jadi diplomat.
Banyak hal indah terjadi karena ketidaksengajaan, saya memilih desain grafis karena 'kecelakaan.’ Hingga sekarang belum merasa menyesal Buat apa menyesal? Penyesalan adalah suatu hal yang membuat kebahagiaan sulit untuk diraih, Penyesalan itu terror hebat bagi ketentraman hidup!

Kapan kita pantas berbangga dan kapan kita musti malu?
Bangga pada saat membuat orang lain bahagia dan merasa malu pada saat membuat diri sendiri bahagia sementara orang lain menderita.

Jadi desainer grafis itu kehormatan atau aib?
Seribu satu macam itu bidang pekerjaan
Dari jadi pengamen sampai jadi seorang presiden
Seribu satu macam cara orang mencari makan
Dari menjual koran sampai menjual kehormatan
- Rhoma Irama

Gak malu dengan Tuhan kalau nanti di akhirat ditanya apa yang sudah dikerjakan selama di dunia. Lha, jawabannya cuma buat poster, brosur, iklan, buku tahunan, profil perusahaan, atau sekedar jadi tukang pamer?
Yang utama tentunya mengukur seberapa 'berkah' desain yang kita hasilkan. Saya rasa kita harus lebih memahami di mana level kita berada pada saat ini, sehingga bisa lebih proporsional dalam melakukan 'kritik' terhadap karya kita sendiri dan mempertanggungjawabkannya terhadap siapapun. Tuhan itu berada di ranah seni tertinggi pasti sang kreator memiliki sense of art luar biasa, Dia punya apresiasi mendalam mengenai karya-karya kita.

"Bangga pada saat membuat orang lain bahagia dan merasa malu pada saat membuat diri sendiri bahagia sementara orang lain menderita."

Artworks itu esensi atau sekedar artikulasi?
Dalam proses kreatif sebaiknya saya harus mampu menangkap, merasakan dan mempresentasikan kedua sensasi tersebut sehingga kita tidak terjebak dalam sebuah retorika duluan mana telur atau ayam?

Kenapa reformasi 1998 pelopornya bukan seorang desainer?
Hahahaha… Gak lucu kalau yang mencetak gol ke gawang seorang juru masak. Setiap orang ada porsinya masing-masing.

Monggo dipilih. Kira-kira status eksistensi seperti apa yang paling pas disandang para desainer grafis berkaitan dengan kontribusi mereka untuk masyarakat. Kenapa? Pertama, kehadiran dan perannya wajib ada di dunia ini. Kedua, pemerataan rejeki, ada desainer grafis alhamdulillah gak ada juga tidak masalah. Atau ketiga, kehadiran dan fungsi mereka justru mubadzir dan tidak diharapkan.
Yang pertma. Kalo tidak ada desainer grafis; mau makan sulit karena font Warteg dan McD gak jelas warnanya. Masuk supermarket packaging putih semua, mobil balap F1 polos jadi siapa pemenangnya agak sulit diidentifikasi, tidak ada Steve Jobs, tidak ada iPod, tidak ada buku, tidak ada majalah, tidak ada tulisan ini, tidak ada Facebook, tidak ada avatar, tidak ada Spongebob, omaygat! Dunia menjadi membosankan. Sebaiknya kita segera cari mall dan loncat dari lantai 5!

"Eksperimental itu adalah seorang kawan yang baik namun biasanya keras kepala sementara trendi adalah figur tampan, cantik dan wangi namun memiliki sifat pengkhianat karena kerapkali mencuri wilayah eksperimental demi kepentingan sepihak."

Apapun yang dapat kita indera bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang bernilai estetika, kalau gak salah begitu catatan penulis filsafat seni di dalam bukunya. Dengan kata lain representasi materiil bukan menjadi determinan paling dominan untuk menilai sebuah karya seni termasuk desain. Lalu apa yang menjadikan sebuah desain layak dijadiakan masterpiece atau justru lebih pantas disimpan di dalam gudang?
Sederhana. Saat ini 'formula' yang cepat untuk menghasilkan masterpiece adalah; kecakapan kurator, dukungan media dari berbagai lini, hasrat kolektor seni yang bisa dimanfaatkan dengan baik dan momentum yang tepat pada saat berkarya ditambah dengan sedikit bumbu keberuntungan.

EKSPERIMENTAL atau TRENDI?
Eksperimental itu adalah seorang kawan yang baik namun biasanya keras kepala sementara trendi adalah figur tampan, cantik dan wangi namun memiliki sifat pengkhianat karena kerapkali mencuri wilayah eksperimental demi kepentingan sepihak.

Membingkai Indonesia Hebat

Berikut ini wawancara saya dengan Jay Subiakto, bapak gondrong yang bertangan dingin menangani proyek-proyek kesenian. Obrolan enteng ini dilakuakan pada banyak bulan yang lalu. Sudah pernah diterbitkan di majalalah elektronik Bajigur! Monggo bisa didownload di sini bajigur.org

Bajigur! berhasil merampas waktu senggang Jay Subiakto. Seorang pengarah seni yang juga fotografer handal cetakan lokal. Beberapa karyanya yang terkenal diantaranya adalah iklan TVC Rumahku Indonesiaku, Cahaya Asa, dan Indonesia Adya kemudian pagelaran musik Chrisye Badai Pasti berlalu juga merupakan buah dari olah cipta dan rasa seorang Jay Subiako. Kami berbincang santai tentang desain dan kemampuanya untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat.

Hallo apa kabar mas Jay? Salam Indonesia!
Baik.

Lagi sibuk bikin proyek apa?
Belum ada. Tahun ini saya meneruskan semua pekerjaan tahun lalu. Matahati, rencananya dipentaskan pada bulan Mei tahun ini di Teater Jakarta, Musikal Laskar Pelangi dipentaskan pada bulan Juli di Teater Jakarta selama 2 minggu, kemudian September di Esplanade Singapura dan November di Istana Budaya Malaysia.

"Nasionalisme adalah kecintaan pada tanah air kita. Beda dengan chauvinism. Cinta dalam konteks nasionalisme adalah melindungi seluruh kekayaan budaya bangsa serta melestarikannya untuk generasi mendatang."

Referensi yang paling berpengaruh untuk karya terbaik Anda?
Keragaman Budaya Indonesia selalu menjadi referensi saya dalam berkesenian.

Seperti apa proses ‘mendesain’ menurut Anda?
Mendesain atau merancang adalah bentuk akhir dari sebuah pembelajaran, pendalaman, dan perwujudan dari pemikiran dan ide yang berasal dari pengalaman pribadi sehingga memunculkan keasliannya.

Pernah merasa sangat puas dengan karya sendiri? Mengapa karya tersebut dapat membuat Anda puas? 
Tidak pernah.

Untuk siapa semua pekerjaan yang Anda lakukan?
Untuk membahagiakan orang banyak.

Anda seorang artworker atau client servant?
Saya hanyalah pekerja seni. Sama sekali bukan client servant tapi berusaha memotivasi klien kearah dan tujuan yang berguna bagi orang banyak.

Kapan momen terbaik dalam setiap hari?
Setiap pagi ketika saya terbangun oleh suara putri saya.

Konser-konser megah musisi hebat telah Anda selenggarakan, dari Chrisye hingga Rosa. Seandainya Anda mendapatkan job membuat pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk untuk anak-anak muda, konsep wayangan seperti apa yang akan mas Jay rancang?
Saya pernah membuat pagelaran wayang kulit di Bali bersama dalang terkenal dari Bali, Wayan Sidia. Saat itu saya menggunakan wayang berukuran skala manusia kemudian menggabungkannya dengan effek audio visual.

"Mendesain atau merancang adalah bentuk akhir dari sebuah pembelajaran, pendalaman, dan perwujudan dari pemikiran dan ide yang berasal dari pengalaman pribadi sehingga memunculkan keasliannya."

Nasionalisme menurut anda?
Nasionalisme adalah kecintaan pada tanah air kita. Beda dengan chauvinism. Cinta dalam konteks nasionalisme adalah melindungi seluruh kekayaan budaya bangsa serta melestarikannya untuk generasi mendatang.

Sekuat apa cengkraman orientalisme terhadap cara berfikir dan gaya hidup anak bangsa sehingga mereka menjadi orang-orang yang mengekor, menganggap nilai-nilai lokal merupakan sesuatau yang tidak ‘canggih’ - rendah diri - terhadap peradaban Barat?
Sangat akut. Generasi ini masih menganggap Barat adalah yang terbaik sehingga selalu dijadikan tolok ukur. Itulah sebabnya bangsa kita tidak pernah ‘menemukan’ apa-apa karena hanya mengekor pada Barat, dan tidak mempunyai pemikiran sendiri.

Melestarikan budaya bangsa banyak dimaknai secara dangkal; sekedar mencanangkan hari khusus berpakaian adat, memanfaatkan ornamen daerah sekedar sebagai pelengkap penderita dalam sebuah pagelaran, ada juga gerakan melestarikan resep kuliner simbah misalnya. Sementara penggerak peradaban sesungguhnya ada pada buah pikir yang khas, syarat akan kebajikan lokal malah kurang dipelajari. Bagaimana mas Jay melihat permasalahan tersebut?
Kita tidak pernah menggali pemikiran dari jutaan kearifan lokal yang ada di Nusantara ini. Kebudayaan Indonesia memiliki nilai-nilai orisinil yang sangat beragam dan kaya, tetapi tidak pernah dianggap sebagai potensi dari kreativitas.

"Idealisme adalah ketika hasil pekerjaan kita terbebas dari suatu doktrin, kepentingan kelompok, dan propaganda. Ketika kita bebas mengekspresikan kemauan kita untuk kebaikan masyarakat luas tanpa kepentingan apapun."

Mas Jay pernah menjadi fotografer fashion di majalah terkemuka. Apakah Anda menyukai fashion?
Fashion adalah salah satu bentuk kebudayaan yaitu akal budi dan pemikiran yang lahir dari kearifan tiap bangsa dan digunakan sebagai identitas, simbol suatu peradaban eksistensinya terus berubah.

Di mana letak idealisme dalam setiap karya Anda ketika itu?
Idealisme adalah ketika hasil pekerjaan kita terbebas dari suatu doktrin, kepentingan kelompok, dan propaganda. Ketika kita bebas mengekspresikan kemauan kita untuk kebaikan masyarakat luas tanpa kepentingan apapun.

Sesungguhnya pesan apa yang ingin Anda sampaikan pada masyarakat melalui 3 TVC Gudang Garam; ‘Rumahku Indonesiaku, Cahaya Asa, dan Indonesia Adya?
Iklan ini merupakan trilogi. Yang pertama, ‘Rumahku Indonesiaku’ adalah penggugahan tentang pentingnya kita mendalami konsep wawasan Nusantara. Luasnya ‘rumah ‘ kita, keberagaman ‘rumah’ kita dan kerukunan harus kita jaga.

Yang kedua ‘Cahaya Asa’ tentang peran, kekuatan dan pentingnya wanita dalam suatu bangsa. Negara yang kuat adalah ketika kesetaraan gender sudah dicapai dan tidak ada diskriminasi hak dan kewajiban bagi siapapun.

Yang ketiga ‘Indonesia Adya,’ kita telah dikaruniai tanah air yang luar biasa. Akan tetapi jika kita terus mengeruk hasil bumi dengan kerakusan maka alam akan menjawabnya dengan bencana.

"Kita tidak pernah menggali pemikiran dari jutaan kearifan lokal yang ada di Nusantara ini. Kebudayaan Indonesia memiliki nilai-nilai orisinil yang sangat beragam dan kaya, tetapi tidak pernah dianggap sebagai potensi dari kreativitas."

Rokok itu ‘membunuh,’ banyak ilmuwan mengatakan demikian. Apakah budaya merokok sinergis dengan cita-cita menjadikan Indonesia negeri megah dalam budaya dan peradaban?
Jelas tidak sinergis dan ini butuh ketegasan dari pemerintah. Pada awalnya pihak GG meminta saya membuat iklan rokoknya tapi kemudian saya memotivasi mereka untuk membuat iklan korporat GG sebagai penyambut Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Natal, dan Tahun Baru. Semacam iklan penggugahan tentang indahnya negeri ini, karena kita tahu MenBudPar sebagai pemimpin instansi pemerintah yang berkewajiban, tidak pernah membuat iklan yang membanggakan. Dan saya katakan rokok itu pembunuh. Hasilnya adalah ketiga iklan tadi.

Apakah Anda merasa iklan-iklan tersebut berhasil menyampaikan pesan yg dibawanya kepada masyarakat?
Sangat berhasil karena setelah itu MenBudPar memanggil saya dan ingin “meminjam” gambar-gambar iklan ini, saya tolak.

Adakah ide yang lebih hebat untuk Indonesia dari pada yang telah dilakukan Bono U2 lewat kampanye RED untuk menekan laju AIDS di Afrika?
Kenapa Bono dibilang hebat? Ada banyak pahlawan-pahlawan di negeri ini yang tidak haus popularitas tapi bekerja tanpa pamrih. Butet Manurug, Romo Sandyawan, dan Munir misalnya. Merekalah pahlawan yang saya kagumi dan lebih hebat dari Bono.

Terimakasih. Semoga masuk sorga. Amin.

Kreatif Anarkis

Tulisan ini tidak membahas Anarkisme secara rigid dengan uraian teoritis panjang lebar mengenai macam-macam cabangnya. Yang lebih penting justru upaya menangkap pesan-pesannya yang memiliki kerangka praktis untuk diaplikasikan dalam upaya mengembalikan martabat komunikator dan mereka yang menduduki posisi penting dalam mengambil keputusan arah komunikasi, khususnya kampanye periklanan. Secara khusus tulisan ini ditujukan untuk para desainer grafis dan para komunikator yang kerap bersinggungan dan kadang takluk oleh kepentingan pemilik modal atau yang biasa yang disebut klien.

Secara literer Anarki berarti tanpa pemimpin, aturan, dan penguasa. Tidak seorangpun melalui instrument apapun berhak mengatur, dan berkuasa atas ruang gerak dan alam jelajah pemikiran individu. Anarkisme lahir berdasarkan asumsi bahwa setiap manusia memiliki naluri dasar untuk berbuat baik untuk sesama dan lingkungannya.

Kekuasaan yang berlebihan cenderung menciptakan aturan-aturan untuk keuntungan dirinya sendiri sehingga menindas golongan dibawahnya. Pada konteks hubungan komunikator dengan kliennya, akan lebih tepat bila kaum penguasa disebut sebagai golongan pemegang modal. Penghuni lingkarannya, para peneliti dan pakar strategi kompak mendukung mereka dengan premis-premis serta teori mutahir untuk memenangkan persaingan bisnis. Mereka menciptakan tuhan-tuhan kecil penguasa pengetahuan.

Pemodal, cendekiawan beserta praktisi iklan dan pemasaran berkomplot. Menyebarkan illusi melalui ekstasi yang bernama merek. Mengkampanyekan jargon kesejahteraan dengan parameter tingkat konsumsi. Keberhasilan bisnis semata dinilai dari laju konsumsi masyarakat. Eksistensi manusia diakui karena kemampuannya untuk menkonsumsi. Entah sadar atau tidak sesungguhnya kita tengah ditatar untuk saling menghabisi.

Pada kenyataannya CSR yang semestinya sebagai wujud komitmen perusahaan untuk turut memberdayakan masyarakat secara umum, justru menampakkan ironi. Program ini terkesan menjadi alat pencuci dosa. Memanfaatkan simpati masyarakat untuk menutupi kesalahan perusahaan kepada lingkungan dan ketidakadilan lainnya selama bisnis berlangsung. Kewajiban sosial perusahaan menjadi komoditi yang dihitung dengan logika utung rugi.

Semestinya Anarkis

“Advertising is the mostpowerful form of communication in the world. We need to have image that will make people think and discuss.” (Oliviero Toscani)

Kali ini penulis ingin mengajak pembaca mengintip seripihan-serpihan pemikiran orang dibalik propaganda United Colors of Bennetton yang legendaris, Oliviero Toscani. Seorang fotografer dan desainer grafis asal Italia ini merasa risih dengan arus informasi yang disaksikannya. Iklan-iklan yang tidak mendukung suburnya penghargaan masyarakat atas nilai-nilai kemanusiaan memenuhi setiap media. Program-program hiburan yang miskin nilai budaya sama saja. Padahal iklan memiliki peluang besar untuk menyebarkan informasi yang syarat manfaat kepada masyarakat. Seperti pistol, sangat bermanfaat ditangan polisi namun membahayakan apabila dikuasai oleh seorang bandit.

Kreativitas merupakan konsekwensi budaya. Setiap orang wajib kreatif untuk bertahan hidup. Menjadi kreatif berarti mampu menjawab permasalahan kehidupan paling mendasar. Ketika manusia mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya maka mereka tergolong orang-orang kreatif. Hanya saja menurut Toscani, kreativitas memiliki kasta-kastanya sendiri. Banyak orang memiliki segudang ide, mampu menulis, melukis, memotret bahkan membuat karya desain tetapi tidak semua orang layak disebut sebagai artis, desainer arsitek, penulis atau fotografer. Orang-orang kreatif adalah mereka yang berhasil mewujudkan ide-ide mereka menjadi karya yang nilainya selalu relevan dengan jaman.

Seorang kreatif periklanan, desainer, atau sebut saja komunikator yang masih meyakini bahwa pekerjaannya hanyalah untuk membantu menjualkan produk-produk klien, adalah penghayatan atas sikap kreatif pada level terendah. Toscani menambahkan bahwa penggunaan celebrity endorser dalam komunikasi untuk mendokrak penjualan produk, sama saja dengan perilaku seorang pria yang membayar para pelacur untuk melampiaskan nafsu seksualnya. Kreatifitas menuntut penghayatan nilai-nilai kemanusiaan, spiritual, dan sensitivitas lingkungan.

Seni merupakan instrument komunikasi tingkat tertinggi. Melalui kesenian jiwa-jiwa kreatif memperlihatkan visinya tanpa belenggu. Kreatifitas menemui kesejatiannya dalam kesenian.

“Everthing that start from aesthetic, form of colors remain mediocre in order to make something isn’t mediocre you must start from human concept, understand the problems…” (Oliviero Toscani)

Ka’bah dibangun dengan semangat penyatuan umat di seluruh dunia, selaras dengan konsep Tauhid. Borobudur seakan abadi memijarkan kisah-kisah kemanusiaan universal. Filsuf berpikir dan menulis manuskrip untuk menciptakan lentera kecil penuntun mereka yang mau belajar memahami kehidupan. Seorang forografer berita mempertaruhkan nyawa di tengah desingan bom dan peluru demi memenuhi hak informasi masyarakat. Sekarang jiwa-jiwa bebas itu terbelenggu oleh aturan-aturan pemasaran dan digulung pusaran kekuasaan. Kreativitas dikebiri oleh angka-angka penjualan. Pesan-pesan syarat nilai-nilai luhur dikerdilkan menjadi agitasi politik dan hasutan mantra-mantar komersial yang sesungguhnya sangat destruktif bagi kemanusiaan. Iklan menjadi teater monokultur. Semuanya bersemangat mengkampenyekan satu pesan, belanja dan belanja sampai bangkrut.

Dengan yakin Toscani menyebut dirinya sebagai seorang anarkis. Riset marketing masih dibutuhkan. Data-datanya sangat penting. Tetapi bukan untuk menjadi acuan merumuskan strategi yang linear dengan premis-premis hasil penelitian kemudian menyusun serangkaian program komunikasi yang sesuai dengan harapan dan kencenderungan pasar. Sebaliknya, desainer atau orang-orang komunikasi musti menyadari bahwa mereka adalah agen perubahan. Komunikasi merupakan seni berpolitik. Bila meyakini bahwa realitas adalah serangkaian persepsi maka di tangan-tangan para komunikatorlah dunia dibentuk. Menciptakan strategi komunikasi yang kontradiktif dengan premis-premis hasil temuan penelitian pasar menjadi keharusan. Menjadi kreatif berarti melakukan tindakan subversif melawan kesepatakan umum. Sementara pseudo-art – buah karya kreatifitas semu – diciptakan melalui kompromi-kompromi terhadap keyakinan kebanyakan yang dianggap sebagai kebenaran dan tabu.

Disampaikan dalam seminar Beat The Gurus!, 21-22 September 2011, Jogjakarta.

Beat The Gurus!


Iklan luar ruang seminar fotografi\ Rekanan: Gudang Digital
Bukannya nranyak tetapi memang seharusnya semua orang lebih hebat dari para mentornya atau minimal sama. Ide iklan acara seminar ini sangat dadakan. Gak ada diskusi panjang lebar. Madep mantep pegangkata kunci pemberontakan dan anarkis. Anarkis bukan rusuh, tapi anti dominasi. Yakin kalau setiap orang berhak untuk lepas dari pengaruh apapun, termasuk terlalu mengelukan para guru mereka. Sepemahaman saya dunia desain, seni, iklan, dan fotografi bahkan di linkungan akademis logika kasta masih berlaku. Coba saja, adalah dagelan kalau seorang sarjana strata satu mempublikasikan asumsi tanpa landasan teori orang lain yg sudah dianggap pinter bergelar akademik tertinggi. Sama saja, biasanya fotografer hebat dinilai dari porfolionya yang tampak lezat dipandang mata, kemudian semua orang dengan khusyuk mlongo terpana mendengarkan ceramahnya. Padahal melulu soal teknis yg dibicarakan, miskin elaborasi substansi permasalahan. Celakanya sang idola dengan percaya diri ceramah layaknya seorang komandan mengatur anak buahnya.

Saya mewakili Bajigur! turut urun rembug dalam semnar tersebut. Materi diskusi yang kami sampaikan dalam seminar tersebut dapat disimak juga di blog ini berjudul Kreatif Anarkis.