Berikut ini wawancara saya dengan Jay Subiakto, bapak gondrong yang bertangan dingin menangani proyek-proyek kesenian. Obrolan enteng ini dilakuakan pada banyak bulan yang lalu. Sudah pernah diterbitkan di majalalah elektronik Bajigur! Monggo bisa didownload di sini bajigur.org
Bajigur! berhasil merampas waktu senggang Jay Subiakto. Seorang pengarah seni yang juga fotografer handal cetakan lokal. Beberapa karyanya yang terkenal diantaranya adalah iklan TVC Rumahku Indonesiaku, Cahaya Asa, dan Indonesia Adya kemudian pagelaran musik Chrisye Badai Pasti berlalu juga merupakan buah dari olah cipta dan rasa seorang Jay Subiako. Kami berbincang santai tentang desain dan kemampuanya untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat.
Hallo apa kabar mas Jay? Salam Indonesia!
Baik.
Lagi sibuk bikin proyek apa?
Belum ada. Tahun ini saya meneruskan semua pekerjaan tahun lalu. Matahati, rencananya dipentaskan pada bulan Mei tahun ini di Teater Jakarta, Musikal Laskar Pelangi dipentaskan pada bulan Juli di Teater Jakarta selama 2 minggu, kemudian September di Esplanade Singapura dan November di Istana Budaya Malaysia.
"Nasionalisme adalah kecintaan pada tanah air kita. Beda dengan chauvinism. Cinta dalam konteks nasionalisme adalah melindungi seluruh kekayaan budaya bangsa serta melestarikannya untuk generasi mendatang."
Referensi yang paling berpengaruh untuk karya terbaik Anda?
Keragaman Budaya Indonesia selalu menjadi referensi saya dalam berkesenian.
Seperti apa proses ‘mendesain’ menurut Anda?
Mendesain atau merancang adalah bentuk akhir dari sebuah pembelajaran, pendalaman, dan perwujudan dari pemikiran dan ide yang berasal dari pengalaman pribadi sehingga memunculkan keasliannya.
Pernah merasa sangat puas dengan karya sendiri? Mengapa karya tersebut dapat membuat Anda puas?
Tidak pernah.
Untuk siapa semua pekerjaan yang Anda lakukan?
Untuk membahagiakan orang banyak.
Anda seorang artworker atau client servant?
Saya hanyalah pekerja seni. Sama sekali bukan client servant tapi berusaha memotivasi klien kearah dan tujuan yang berguna bagi orang banyak.
Kapan momen terbaik dalam setiap hari?
Setiap pagi ketika saya terbangun oleh suara putri saya.
Konser-konser megah musisi hebat telah Anda selenggarakan, dari Chrisye hingga Rosa. Seandainya Anda mendapatkan job membuat pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk untuk anak-anak muda, konsep wayangan seperti apa yang akan mas Jay rancang?
Saya pernah membuat pagelaran wayang kulit di Bali bersama dalang terkenal dari Bali, Wayan Sidia. Saat itu saya menggunakan wayang berukuran skala manusia kemudian menggabungkannya dengan effek audio visual.
"Mendesain atau merancang adalah bentuk akhir dari sebuah pembelajaran, pendalaman, dan perwujudan dari pemikiran dan ide yang berasal dari pengalaman pribadi sehingga memunculkan keasliannya."
Nasionalisme menurut anda?
Nasionalisme adalah kecintaan pada tanah air kita. Beda dengan chauvinism. Cinta dalam konteks nasionalisme adalah melindungi seluruh kekayaan budaya bangsa serta melestarikannya untuk generasi mendatang.
Sekuat apa cengkraman orientalisme terhadap cara berfikir dan gaya hidup anak bangsa sehingga mereka menjadi orang-orang yang mengekor, menganggap nilai-nilai lokal merupakan sesuatau yang tidak ‘canggih’ - rendah diri - terhadap peradaban Barat?
Sangat akut. Generasi ini masih menganggap Barat adalah yang terbaik sehingga selalu dijadikan tolok ukur. Itulah sebabnya bangsa kita tidak pernah ‘menemukan’ apa-apa karena hanya mengekor pada Barat, dan tidak mempunyai pemikiran sendiri.
Melestarikan budaya bangsa banyak dimaknai secara dangkal; sekedar mencanangkan hari khusus berpakaian adat, memanfaatkan ornamen daerah sekedar sebagai pelengkap penderita dalam sebuah pagelaran, ada juga gerakan melestarikan resep kuliner simbah misalnya. Sementara penggerak peradaban sesungguhnya ada pada buah pikir yang khas, syarat akan kebajikan lokal malah kurang dipelajari. Bagaimana mas Jay melihat permasalahan tersebut?
Kita tidak pernah menggali pemikiran dari jutaan kearifan lokal yang ada di Nusantara ini. Kebudayaan Indonesia memiliki nilai-nilai orisinil yang sangat beragam dan kaya, tetapi tidak pernah dianggap sebagai potensi dari kreativitas.
"Idealisme adalah ketika hasil pekerjaan kita terbebas dari suatu doktrin, kepentingan kelompok, dan propaganda. Ketika kita bebas mengekspresikan kemauan kita untuk kebaikan masyarakat luas tanpa kepentingan apapun."
Mas Jay pernah menjadi fotografer fashion di majalah terkemuka. Apakah Anda menyukai fashion?
Fashion adalah salah satu bentuk kebudayaan yaitu akal budi dan pemikiran yang lahir dari kearifan tiap bangsa dan digunakan sebagai identitas, simbol suatu peradaban eksistensinya terus berubah.
Di mana letak idealisme dalam setiap karya Anda ketika itu?
Idealisme adalah ketika hasil pekerjaan kita terbebas dari suatu doktrin, kepentingan kelompok, dan propaganda. Ketika kita bebas mengekspresikan kemauan kita untuk kebaikan masyarakat luas tanpa kepentingan apapun.
Sesungguhnya pesan apa yang ingin Anda sampaikan pada masyarakat melalui 3 TVC Gudang Garam; ‘Rumahku Indonesiaku, Cahaya Asa, dan Indonesia Adya?
Iklan ini merupakan trilogi. Yang pertama, ‘Rumahku Indonesiaku’ adalah penggugahan tentang pentingnya kita mendalami konsep wawasan Nusantara. Luasnya ‘rumah ‘ kita, keberagaman ‘rumah’ kita dan kerukunan harus kita jaga.
Yang kedua ‘Cahaya Asa’ tentang peran, kekuatan dan pentingnya wanita dalam suatu bangsa. Negara yang kuat adalah ketika kesetaraan gender sudah dicapai dan tidak ada diskriminasi hak dan kewajiban bagi siapapun.
Yang ketiga ‘Indonesia Adya,’ kita telah dikaruniai tanah air yang luar biasa. Akan tetapi jika kita terus mengeruk hasil bumi dengan kerakusan maka alam akan menjawabnya dengan bencana.
"Kita tidak pernah menggali pemikiran dari jutaan kearifan lokal yang ada di Nusantara ini. Kebudayaan Indonesia memiliki nilai-nilai orisinil yang sangat beragam dan kaya, tetapi tidak pernah dianggap sebagai potensi dari kreativitas."
Rokok itu ‘membunuh,’ banyak ilmuwan mengatakan demikian. Apakah budaya merokok sinergis dengan cita-cita menjadikan Indonesia negeri megah dalam budaya dan peradaban?
Jelas tidak sinergis dan ini butuh ketegasan dari pemerintah. Pada awalnya pihak GG meminta saya membuat iklan rokoknya tapi kemudian saya memotivasi mereka untuk membuat iklan korporat GG sebagai penyambut Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Natal, dan Tahun Baru. Semacam iklan penggugahan tentang indahnya negeri ini, karena kita tahu MenBudPar sebagai pemimpin instansi pemerintah yang berkewajiban, tidak pernah membuat iklan yang membanggakan. Dan saya katakan rokok itu pembunuh. Hasilnya adalah ketiga iklan tadi.
Apakah Anda merasa iklan-iklan tersebut berhasil menyampaikan pesan yg dibawanya kepada masyarakat?
Sangat berhasil karena setelah itu MenBudPar memanggil saya dan ingin “meminjam” gambar-gambar iklan ini, saya tolak.
Adakah ide yang lebih hebat untuk Indonesia dari pada yang telah dilakukan Bono U2 lewat kampanye RED untuk menekan laju AIDS di Afrika?
Kenapa Bono dibilang hebat? Ada banyak pahlawan-pahlawan di negeri ini yang tidak haus popularitas tapi bekerja tanpa pamrih. Butet Manurug, Romo Sandyawan, dan Munir misalnya. Merekalah pahlawan yang saya kagumi dan lebih hebat dari Bono.
Terimakasih. Semoga masuk sorga. Amin.